2:51 am - Saturday November 1, 2014

Sejumlah Kesenian Khas Karawang Nyaris Punah

181 Viewed adi.suryadi 0 respond
Illustrasi
Illustrasi
Illustrasi

Illustrasi

KARAWANGID.COM,- Sejumlah kesenian khas Kabupaten Karawang saat ini nyaris punah. Hal itu terjadi akibat tidak adanya kaderisasi dari seniman sebelumnya kepada generasi berikutnya.

Kesenian yang hampir hilang ditelan jaman itu di antaranya adalah Topeng Banjet dan Ajeng.”Kondisi ini membuat kami prihatin. Jika tidak diselamatkan dari sekarang, kesenian itu tidak bisa disaksikan lagi di masa mendatang,” ujar Ketua Dewan Kesenian Karawang (DKK), Hj. Yati Mulyati, di kantornya, Selasa (26/2/13).

Dikatakan, kesenian Ajeng dan Topeng Banjet, sempat meraih jaman kejayaannya pada era delapan puluhan. Ketika itu, Ajeng dan Topeng Banjet kerap tampil pada pesta pernikahan atau khitanan.

Menurut Yati, khusus kesenian Topeng Banjet dipopularkan oleh almarhumah Ma Ijem dan almarhum Ali Saban. Bahkan mereka sempat menerbitkan beberapa kaset rekaman kesenian tersebut.

Kesenian yang menampilkan lawakan khas sunda Karawang tersebut pada jamannya banyak disukai masyarakat. Tak pelak, kesenian tersebut sempat mencuatkan nama Kabupaten Karawang di mata masyarakat Jawa Barat.

“Beberapa kali Topeng Banjet tampil di layar TVRI Bandung,” tutur Yati.

Namun seiring dengan perkembangan jaman dua kesenian itu nyaris dilupakan masyarakat. Mereka lebih suka memanggil grup musik modern seperti organ tunggal atau orkes dangdut.

Kondisi tersebut, lanjut Yati, diperparah oleh makin kecilnya minat generasi muda terhadap kesenian itu. Mereka malah lebih tertarik menekuni dunia lain, seperti menjadi pemandu lagu atau bahkan menjadi buruh pabrik.

Seiring dengan mati surinya sejumlah kesenian tersebut, lanjut Yati, Kabupaten sedang mengalami krisis seniman. Saat ini, jumlah sinden dan nayaga semakin langka.

Sinden dan nayaga yang tenar ketika seni Jaipong digandrungi masyarakat, sebagian sudah meninggal dunia. Sementara untuk menyiapkan dan membentuk sinden serta nayaga diperlukan waktu cukup lama. “Peminatnya juga sangat kurang,” tutur Yati.

Menurut Yati, saat ini pihaknya berupaya menyelamatkan dua jenis kesenian tersebut. Caranya, DKK berupaya melatih para pewaris Ajeng dan Topeng sesuai pakemnya.

Selain itu, DKK sedang berusaha agar kesenian asli Karawang masuk ke dalam kurikulum muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah daerah setempat. Namun usulan tersebut hingga saat ini belum direspon Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karawang, H. Acep Jamhuri berjanji akan ikut berupaya melestarikan kebudayaan dan kesenian yang nyaris punah itu.”Kami siap membantu para seniman untuk tetap bisa tampil walaupun tidak ada yang mengundang. Mereka bisa menampilkan keahliannya itu melalui panggung khusus yang kami siapkan,” ujar Acep.

Sumber : Pikiran-rakyat.com (303)


Don't miss the stories followKARAWANG ID and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
© Copyright 2010 CorbisCorporation

Karawang Musnahkan 800 Ribu Batang Pensil 2B Palsu

Pertahankan Karawang Sebagai Lumbung Padi Nasional

Pertahankan Karawang Sebagai Lumbung Padi Nasional

Related posts
Your comment?
Leave a Reply


one + 2 =